AKSI NYATA
BUDAYA POSITIF
Diseminasi Budaya Positif dan Aksi Nyata Guru Penggerak
Gambar 1. Dokumentasi kegiatan Diseminasi Budaya PositifFilosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan yakni memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Kemudian dinyatakan juga bahwa pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan. Sekolah sebagai salah satu tempat terjadinya pendidikan haruslah menjadi tempat yang kondusif untuk bersemainya "benih" tersebut.
Untuk itu sekolah harus memiliki budaya positif di mana seluruh warga sekolah saling mendukung dan menghargai satu sama lain untuk memberikan lingkungan yang kondusif untuk peserta didik dapat belajar dengan optimal. Dalam hal ini kesamaan visi dan misi serta nilai kebajikan dimiliki oleh guru dan tenaga kependidikan untuk bersama -sama berusaha mewujudkan pembelajaran yang aplikatif agar murid menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Guru penggerak memiliki peran untuk mewujudkan budaya positif di sekolah dengan cara melaksanakan pembelajaran yang berpihak kepada murid dan menjadi teladan serta coach bagi guru yang lainnya. Pembelajaran yang berpihak pada murid ini dilakukan dengan cara antara lain menyesuaikan dengan kebutuhan belajar peserta didik dari segi kesiapan, minat dan profil belajar. Selain itu dalam manajeman kelas , guru hendaknya menerapkan disiplin positif. Apabila terjadi sebuah permasalahan dengan peserta didik maka guru hendaknya melakukan segitiga restitusi dan berperan sebagai manajer. Sedangkan sebagai coach bagi guru lain guru penggerak dapat berperan sebagai fasilitator sebuah diseminasi atau diskusi mengenai budaya positif yang diperlukan oleh guru dan tenaga kependidikan.
Untuk melaksanakan peran tersebut maka pada tanggal 15 November 2022, bertempat di ruang Multimedia SMPN 1 Pasuruan dilaksanakan diseminasi budaya positif dan aksi nyata yang dilakukan guru penggerak mengenai budaya positif. Kegiatan ini diikuti oleh 15 orang guru yang terdiri dari guru kelas 7 dan guru yang tidak memiliki jam mengajar pada jadwal diseminasi. Hal ini dilakukan agar tidak ada guru yang meninggalkan jam pelajaran. Untuk peserta didik kelas 7 diberikan waktu kerja kelompok mandiri untuk persiapan presentasi kelompok jam ke-7 dan 8.
Guru penggerak yang melakukan diseminasi adalah Etik Wahyuni, S.Pd dan Khusnul Mardiyah, S.Pd. Hal-Hal mengenai diseminasi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Maksud dan tujuan dari kegiatan diseminasi untuk berbagi pemahamam dan aksi nyata agar nanti bisa menyatukan persepsi yang sama untuk membentuk budaya positif di sekolah. Bapak ibu guru diharapkan dapat menerapkan disiplin positif dan tidak lagi menggunakan marahan, atau bentakan bahkan ancaman.
2. Pengertian disiplin positif yang merupakan cara untuk mendisiplin anak tanpa kekerasan.
3. Posisi kontrol yang dimiliki guru yakni sebagai penghukum, pembuat merasa bersalah, teman, pemantau dan manajer. 4 posisi yang pertama menimbulkan motivasi ekstrinsik, sedangkan yang terakhir menimbulkan motivasi intrinsik. Oleh karena itu sebaiknya guru berada posisi kontrol manager.
4. Kebutuhan Dasar Manusia yang terdiri dari 5 yakni kebutuhan bertahan hidup, kesenangan, kebebasan, penguasaan , cinta dan kasih sayang . Kebutuhan dasar inilah yang menjadi dasar munculnya motivasi seseorang melakukan sesuatu. Apabila seorang murid melakukans esuatu pasti dalam rangka memenuhi salah satu dari kebutuhan dasarnya.
5. Nilai Kebajikan adalah sifat-sifat positif manusia yang merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu ( glasser: 1984)
6. Nilai kebajikan universal yakni nilai-nilai kebajikan yang disepakati bersama, lepas dari suku bangsa, agama, bahasa maupun latar belakangnya.
7. Profil Pelajar Pancasila sebagai nilai kebajikan dalam kurikulum merdeka yang meliputi beriman dan bertaqwa kepada tuhan YME dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, kreatif, dan bernalar kritis .
8. Motivasi manusia melakukan tindakan berupa motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Sebaiknya kita berlatih agar motivasi yang kita miliki intrinsik.
9. Keyakinan kelas adalah komitmen yang disusun bersama-sama antar guru dan murid agar segala yang diterapkan di kelas berpusat pada anak dan untuk sebesar-besarnya kepentingan murid. Guru hendaknya menyusun komitmen kelas bersama murid-murid serta memasangnya di kelas agar semua bisa mengingat komitmen kelas yang harus dijaga.
10. Segitiga restitusi adalah proses menciptakan kondisi untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka dengan karakter yang kuat.
11. Aksi nyata dari skenario segitiga restitusi yang dilakukan oleh guru.
a) Ibu Etik : Video segitiga restitusi untuk Luluk dan Rizky yang bertengkar dan memukul hingga sesak guru, Guru memvalidasi tindakan yang salah, menstabilkan identitas, dan menanyakan keyakin. Video yang kedua adalah tentang konflik anak-anak ( salman dan Habibie Raditya pada saat latihan untuk lomba PMR.
b) Bu Khusunul : Segitiga restitusi tentang anak-anak yang tidak masuk kelas pada jam pelajaran dan memalsukan tanda tangan orang tua.
Penguatan yang diberikan oleh wakil kepala sekolah adalah ada hal-hal yang tidak sepenuhnya harus diterima, tetapi disesuaikan dengan kondisi di Indonesia umumnya dan Pasuruan khususnya. Tetapi budaya positif ini memanglah yang diperlukan sekolah dan akan diusahakan semua warga sekolah. Tindak lanjutnya adalah anak-anak akan diberikan proyek penguatan profil pelajar pancasila pada awal tahun pembelajaran.
