Sabtu, 10 September 2022

 

          KONEKSI ANTAR MATERI KESIMPULAN DAN REFLEKSI MODUL 1.1

                Oleh : Etik Wahyuni, S.Pd_CGP Angkatan 56_Kota Pasuruan

            Kesimpulan dan refleksi  saya terhadap pemikiran-pemikiran KHD menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Apa yang saya percaya tentang murid dan pembelajaran sebelum mempelajari modul?

2. Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku saya setelah mempelajari modul?

3. Apa yang segera dapat saya terapkan lebih baik agar kelas mencerminkan pemikiran KHD?

              

        Pendidikan guru penggerak khususnya angkatan 6 yang saya ikuti menggunakan Alur  Merdeka yakni  Mulai Dari Diri, Elaborasi Konsep, Ruang Kolaborasi, Demonstrasi  Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, Koneksi antar Materi dan  Aksi Nyata. 


                                    Sumber gambar: kgplombokbarat.com

        Alur ini merupakan perwujudan pembelajaran berpusat pada peserta didik yang sangat membantu saya sebagai peserta pendidikan guru penggerak. Alur ini sekaligus memberikan saya inspirasi untuk melakukan pembelajaran di kelas saya.


A.  MULAI DARI DIRI

     Apa yang saya percaya mengenai murid dan pembelajaran sebelum mempelajari modul?

           Sebelum mengikuti guru penggerak, saya sempat memiliki pandangan yang kurang baik terhadap input peserta didik di sekolah. Karena zonasi, mayoritas murid kami berasal dari pinggir pantai yang mata pencaharian keluarganya adalah buruh nelayan, pemilik kapal, pedagang ikan, tukang becak dan lain sebagainya. Hanya sedikit murid kami yang memiliki latar belakang orang tua yang berpendidikan tinggi, tidak seperti saat sekolah kami menjadi  sekolah favorit.

    Kami para guru terkejut dengan perubahan input peserta didik dan kurang siap. Kami berusaha sekuat tenaga membuat anak didik kami  tetap berkualitas dan itu sangat berat. Apalagi pandemi memperparah semuanya. Saat masuk sekolah, semangat belajar kurang terlihat, retensi perhatian mereka pendek, tingkah laku dan kesopanan kurang tertata, serta kemampuan akademik kelas sebelumya rendah. 

    Karena alasan di atas  saya pribadi sempat memiliki pendapat bahwa mereka adalah kertas kosong yang harus saya tulisi. Saya harus membuat mereka rajin belajar, sopan, selalu fokus pada pelajaran, dan bagus kemampuan akademiknya. Mereka harus belajar dengan cara saya.  

      Pembelajaran saya rencanakan dengan sangat baik dan anak-anak harus menerima  tugas , melakukan kegiatan, dan mengumpulkan jenis hasil pekerjaan yang sama. Karena kurangnya pemahaman saya mengenai kodrat zaman dan kodrat alam, maka saya kesulitan menata hati dan pembelajaran dengan baik. Sekitar 40 persen peserta didik tidak mengerjakan tugasnya.

B. ELABORASI KONSEP

     Pada tahap eksplorasi konsep, secercah semangat muncul  setelah menyaksikan video pendidikan masa kolonial dan intrepretasi filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara. Selain itu, tiga tulisan Ki Hajar Dewantara membuka wawasan dan mata hati saya mengenai hebatnya jiwa beliau berjuang untuk pendidikan di Indonesia. 

     Pada tahap ini dipelajari  secara mandiri mengenai filosofi  KHD seperti berikut:




  • Pendidikan yang menuntun maksudnya  adalah pendidikan yang membimbing  segala kodrat yang dimiliki olah anak agar bahagia dan selamat baik sebagai individu mapupun anggota masyarakat. Pendidik layaknya petani  dan  anak didik diibaratkan sebagai biji tanaman yang disemai. 

  • Kodrat alam dan zaman maksudnya adalah sifat dan bentuk lingkungan serta isi dan irama dimana anak berada. Peserta didik bukan kertas kosong yang bisa dipaksa ditulisi sesuka hati kita. Mereka telah  memiliki kekuatan (kodrat) lingkungan dan waktu(zaman).  Kita harus bisa menuntun laku mereka menebalkan laku baik mereka dan menipiskan laku buruk. 

  • Budi pekerti merupakan perpaduan antara cipta, rasa, dan karsa sehingga bisa menciptakan    karya. Budi pekerti melatih anak untuk memiliki kesadaran diri yang utuh untuk menjaga            dirinya dan kemerdekaan orang lain.

  • Pendidikan yang menghamba pada anak bermakna dalam menuntun anak didik kita, kita harus mengutamakan kepentingan anak. 

      C. RUANG KOLABORASI

                Melalui ruang kolaborasi, pemahaman konsep yang digali secara mandiri kemudian disusun dalam hasil kerja bersama berupa presentasi menemukenali nilai luhur sosial budaya dalam menebalkan laku murid. Hal ini berkaitan dengan kesadaran kita untuk menemukenali kodrat alam dan zaman anak didik kita sebagai dasar menuntun. Dari hasil kolaborasi ditemukenali latar belakang sosiokultural peserta didik daerah Pasuruan yaitu:


                                 Kodrat alam peserta didik daerah Pasuruan 


Kodrat zaman peserta didik Pasuruan 
    Berdasarkan hasil menemukenali maka sebaiknya di sekolah digunakan peralatan pendidikan seperti thulodho(teladan), Nglakoni(praktek), Pakulinan (Pembiasaan), Ulang wuruk (pembelajaran), dan aturan(tata tertib). Kita menuntun sesuai perkembangan abad 21 tapi jangan lupa tetap menuntun juga sesuai kodrat alam mereka sebagai orang yang telah memiliki budaya dan kawasan yang baik.


D. ELABORASI PEMAHAMAN
    Melalui elaborasi pemahaman, pemahaman konsep saya semakin matang mengenai  filosofi pemikiran KHD. Setiap poin konsep pemikiran KHD mulai dari pendidikan yang menuntun, guru sebagai among, peserta didik bukan kertas kosong, filosofi pendidik sebagai petani, pendidikan berpihak kepada anak, serta tujuan pendidikan dibahas bersama secara mendetail.

E. KONEKSI ANTAR MATERI

    Apa yang berubah dari pemikiran saya setelah mempelajari modul?

      Setiap tahap pada alur merdeka mengenai pemikiran ki Hajar Dewantara membuat saya menjadi lebih mengerti mengenai materi modul 1.1. Saya mengkonstruksi pemahaman saya sendiri dengan bantuan PP, fasilitator dan instruktur.
    Saya mendapatkan lecutan semangat untuk bisa menjadi penuntun yang baik untuk anak-anak. Beban dalam hati dan pikiran saya mengenai input anak didik yang awalnya saya anggap buruk mulai lepas. Hati saya dipenuhi oleh kasih sayang yang besar untuk menuntun mereka. Awalnya sebelum mengeksplorasi modul dan mendapatkan keseluruhan isi, saya sering merasa putus asa tentang bagaimana mengajar mereka. 
        
      Apa yang dapat saya terapkan lebih baik agar kelas mencerminkan pemikiran KHD?
       
    Sekarang saya menyadari mereka adalah anak bangsa yang diamanahkan untuk dituntun, siapapun mereka. Saya meminta maaf setelah pelajaran dan meminta bantuan dan dukungan mereka untuk bisa menuntun mereka dengan baik,
    Pertama, hal yang terlintas dalam pikiran saya adalah saya harus menebalkan laku dengan cara yang disepakati bersama. Mereka ternyata adalah anak-anak hebat yang bisa diajak bertukar pikiran dan disentuh hatinya, bukan dengan cara dibentak, diteriaki atau dipermalukan. Kesepakatan kelas yang saya alami pada saat pembelajaran di PGP, akan saya terapkan lebih baik di dalam kelas dan dalam kegiatan apapun yang saya lakukan bersama.  
     Kedua, untuk kegiatan pembelajaran saya akan menerapkan alur MERDEKA. Persiapan yang saya lakukan adalah dengan menyusun modul ajar yang berisi aktifitas berpusat kepada siswa. Saya memposisikan saya sebagai fasilitator yang mendampingi mereka mengkontruksi pengetahuannya. 
Saya juga  menggunakan aplikasi menyesuaikan kodrat zaman peserta didik seperti Canva, Quizziz dan Kahoot.
     Ketiga, saya akan menjadi teladan bagi anak didik saya dalam hal kedisiplinan, semangat belajar, budaya religius, dan prestasi. 
     Semoga nanti saya bisa menjadi pemimpin pembelajaran yang dapat menerapkan trilogi pendidikan "Ing Ngarso sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani"
      Aksi nyata seperti diatas yang akan saya lakukan sebagai wujud komitmen untuk sama-sama bergerak menuntun mereka menuju "Students' Wellbeing". 


                                              sumber gambar : dokumentasi penulis





    




   
   












  




        


      



        





Tidak ada komentar:

Posting Komentar